Miris, Bocah Kelas 5 SD Ini Mesti Melahirkan Bayi, Benih dari Bapak Tirinya

Miris, Bocah Kelas 5 SD Ini Mesti Melahirkan Bayi, Benih dari Bapak Tirinya

SEBARKANBERITA



Dunia seakan-akan tak berarti bagi bunga (12), impiannya kini seolah-olah pudar bahkan masa kecil anak ini pun tak seindah anak-anak seusianya.

Bayangkan saja, Bunga yang baru duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar (SD) itu kini harus menanggung derita akibat perbuatan keji sang ayah tirinya (Zulkarnain alias Zul) yang tega menghamili dirinya hingga Bunga pun kini telah melahirkan bayi akibat perbuatan cabul sang ayah tiri, Zul (33).

Ketika ditemui ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) provinsi Bangka Belitung bersama anggotanya termasuk wakil ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bangka Belitung Tanwin dan seorang staf ahli gubernur Bangka Belitung bidang Kemasyarakatan & SDM, Sumini Yuliastuti di kediaman Bunga, di Desa Nibung Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah belum lama ini.

Saat ditemui hari itu di kediaman keluarganya, Bunga terlihat sedang duduk melamun seperti layaknya orang kebingungan.

Ketua KPAD provinsi Bangka Belitung beserta rombongan hari itu sengaja menemui Bunga.
Bunga sendiri tak lain merupakan korban tindak pencabulan oleh sang ayah tiri hingga kini ia Bunga yang malang itu harus menderita akibat kejadian yang dialaminya itu.

Ada rasa haru dan prihatin ketika rombongan ketua KPAD Provinsi Bangka Belitung saat mendengar kisah anak SD yang malang itu.

Bunga didampingi ibu kandung dan ayah kandung korban mengaku jika Bunga sendiri kini tak lagi bisa menikmati kegiatan belajar-mengajar di sekolah seperti anak-anak seusia ia lainnya lantaran kini Bunga kini telah menjadi sosok seorang ibu.

"Kami merasa sangat kasihan atas penderitaan yang dirasakan oleh Bunga. Kini Bunga telah melahirkan seorang anak akibat perbuatan bejat ayah tirinya," kata Sapta Qodria Muafi SH selaku ketua KPAD Provinsi Bangka Belitung kepada bangkapos.com, Senin (15/5/2017) di Pangkalpinang.

Kondisi Bunga kini pun menjadi perhatian pihak KPAD provinsi Bangka Belitung, oleh karenanya pihak KPAD berencana akan melakukan terapi trauma terhadap korban (Bunga) sekaligus merekomendasikan terkait rencana pendidikan bagi Bunga.

"Saat berbincang dengan korban (Bunga--red) justru korban masih berkeinginan untuk bisa melanjutkan pendidikannya hingga tuntas ke jenjang yang lebih tinggi termasuk terapi trauma bagi si korban dan itu sudah kami agendakan Selasa besok," terang Sapta.

Sementara angggota DPRD Provinsi Bangka Belitung, Tanwin yang ikut dalam rombongan KPAD provinsi Bangka Belitung pun mengaku jika dirinya pun merasa prihatin terkait kondisi Bunga.

Namun yang sangat disesalkan olehnya justru pihak intansi terkait atau Dinas Sosial dan Perlindungan Anak Kabupaten Bangka Selatan justru dinilainya tidak peka terkait kejadian yang menimpah Bunga selaku warga Desa Nyelanding, Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan.

Sebaliknya ia malah memberikan apresiasi positip kepada pihak KPAD provinsi Bangka Belitung yang begitu respon terkait kejadian seorang siswi SD di wilayah Bangka Selatan dicabuli ayah tiri hingga kini bocah malang itu melahirkan seorang anak.

"Kejadian seperti ini jangan sampai terulang lagi dan pihak pemerintah daerah setempat pun mesti peduli dengan kejadian yang dialami siswi kelas 5 SD itu (Bunga--red)," kata Tanwin, Senin (15/5/2017).

Seperti diungkapkan Sapta, kejadian tindak pencabulan terhadap Bunga dengan pelaku tak lain merupakan ayah tiri (Zul) terjadi di Desa Batu Betumpang, Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan.

Korban (Bunga) waktu itu dicabuli sang ayah tiri di kediaman ibu kandungnya di Desa Batu Betumpang, bahkan korban dicabuli lebih dari satu kali oleh pelaku.

Mirisnya lagi sang ayah tiri diketahui sehari-hari dikenal masyarakat sebagai guru ngaji di kampung.
Namun akibat perbuatannya itu kini Zul menurut penuturan pihak keluarga korban, si pelaku (Zul) kini telah meringkuk di sel jeruji besi Lapas Bukit Semut, Kota Sungailiat setelah majelis hakim Pengadilan Negeri Sungailiat menjatuhkan vonis hukuman kurungan penjara selama 9 tahun.

Meski begitu Ketua KPAD provinsi Bangka Belitung, Sapta Qodria Muahfi SH berharap jaksa penuntut umum (JPU) dapat mengajukan banding lantaran vonis majelis hakim dinilai tidak setimpal terhadap penderitaan korban (Bunga).


photo AB230x90gif_zps839436ce.gif
 http://adukiukiu.com/
 http://www.inidewa365.org
 https://goo.gl/gPJim5
Share on Google Plus

About sebarkanberita

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.