, Polisi Sayur yang Baik Hati Itu Korban Tsunami 2004 yang Hidup Sebatangkara | Berita Terbaru

Polisi Sayur yang Baik Hati Itu Korban Tsunami 2004 yang Hidup Sebatangkara

Polisi Sayur yang Baik Hati Itu Korban Tsunami 2004 yang Hidup Sebatangkara

SEBARKANBERITA


Polisi Sayur yang Baik Hati Itu Korban Tsunami 2004 yang Hidup Sebatangkara

Bripka Wahyu Muliawan bercerita dia merupakan korban tsunami yang terjadi di Banda Aceh, 26 Desember 2004.

Peristiwa pilu ini membuat dia harus tinggal sebatang kara, karena tiga adiknya dan kedua orang tuanya meninggal dunia, disapu gulungan ombak.

Ia menuturkan bertekad melakukan semua hal yang dia lakukan sekarang ini adalah karena sejak musibah tsunami, ia berjanji kepada diri sendiri akan mencari keluarga sebanyak-banyaknya.

Pada awalnya, dia pernah berniat meningalkan profesinya sebagai polisi, namun dia teringat kepada orang tuanya yang telah membuatnya menjadi anggota Bhayangkara Negara.

"Saya ditinggalkan orang tua dengan seragam ini. Maka saya harus mempertahankannya," ujarnya.
Wahyu bercerita selain menjadi polisi, ia tidak gengsi menekuni pekerjaan lain.

Misalnya, tukang becak, penjual sepatu, dan pedagang kaca mata.

Profesi sampingan itu dia tekuni malam hari, di lur jadwal kerja sebagai anggota polisi.

Bahkan dalam waktu tiga tahun terakhir, setjak 2014, ia menekuni pekerjaan baru, yakni berdagang sayur-mayur.

Ia membina para petani di kawasan Medan Marelan, di wilayah hukum Polsek Labuhan Deli, tempatnya bertugas.

Baca juga : Kisah Polisi Sayur Gadaikan Rumah hingga Disuruh Istri Tidur di Garasi demi Menolong Warga

Wahyu menjadi perantara, mengepul sayur-mayur hasil pertanian warga, dibeli secara layak, kemudian dijual ke banyak pasar di Kota Medan.

Profesi yang digelutinya saat ini pun, menurutnya, masih sering kali menjadi ejekan teman-temanya sesama polisi.

"Sering dapat ejekan, sebagai polisi yang tidak berwibawa. Polisi yang aneh. Tapi saya nggak peduli, yang penting saya menjadi polisi yang berguna bagi orang lain," ujar Wahyu.

Betul saja memang, sebab dia dapat menolong banyak orang. Selain itu, penghasilan sampingannya dari berdagang sayur-mayur mencapai puluhan juta setiap bulan.

Ayah tiga anak ini beranggapan polisi tidak zamanya lagi ditakuti masyarakat, melainkan harus dicintai warganya.

"Ngapain jadi polisi yang ditakuti. Kita harus jadi polisi yang dicintai warga. Polisi yang jika kita tidak tampak, warga langsung kerepotan mencari kita. Buat apa pula kita jadi polisi yang ditakuti, kalau sudah pensiun nanti takut keluar rumah. Mending seperti saya jadi polisi sayur. Pas pensiun nanti warga tetap menghormati kita karena karya kita selama menjadi polisi," kata Wahyu.
Bripka Wahyu mengatakan bahwa cita-citanya tidaklah tinggi.

"Nggak muluk-muluk cita-citaku. Yang ku mau nanti kalau sudah pensiun bisa menjadi kepling. Saya lebih menginginkan jadi soerang Kepling daripada jadi perwira," ujarnya tersenyum.

Peroleh Penghasilan Rp 28 Juta dan Gemar Berbagi

Masih ingatkah anda akan sosok polisi jujur, Brigadir Polisi Kepala Seladi asal Malang, Jawa Timur yang gigih menjadi pemulung sampah dan menolak uang sogokan, tidak lakukan pungli? Ternyata kisah inspiratif seperti itu terdapat pada diri Si Polisi Sayur berikut ini.

Kisah ini bermula Kamis (2/2/2017) ketika Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, memberikan penghargaan kepada personel polisi berprestasi yang ada di jajaran Polda Sumut.
Dari sekian banyak personel polisi yang mendapat penghargaan, satu personel polisi mendapat penghargaan yang unik dari Kapolda Sumut, yaitu Si Polisi Sayur.

Penghargaan ini diterima Bripka Wahyu Mulyawan yang bertugas di Polsek Medan Labuhan.
Usut punya usut, ternyata Bripka Wahyu yang tinggal di Jalan Yong Panah Hijau, Lingkungan 3 Gang Mawar, Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan ini ternyata memiliki kegiatan sebagai pedagang sayur dan membina petani-petani sayur di samping kegiatannya sebagai polisi yang bertugas di Bhabinkamtibmas Polsek Medan Labuhan.

Sosok Brigadir Polisi Kepala Wahyu Mulyawan, 34 tahun, layak menjadi panutan. Ketika masih banyak stigma negatif terhadap sebagian anggota kepolisian, ia justru tampil bagai pahlawan yang membantu kehidupan banyak warga.

Ia bahkan rela menggadaikan rumah demi membantu orang lain, sebagai modal para petani sayur-mayur dan ujungnya berbuah sukses besar. Penghasilan bulanannya rata-rata Rp 28 juta.

Bripka Wahyu baru saja mendapat penghargaan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) terbaik se-Polda Sumut dari Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel. Sehari-hari Wahyu bertugas sebagai Bhabinkamtibmas Polsek Medan Labuhan.
Bripka Wahyu mulai bergelut berdagang sayur-mayur sejak 2014, tiga tahun lalu.

"Sebagai modal awal, saya menggadaikan rumah saya. Marah istri saya waktu itu. Bahkan saya disuruh tidur di garasi. Tapi saya punya prinsip, "jika kita ikhlas, semua akan dibalas sama Tuhan," ujar Bripka Wahyu saat ditemui Harian Tribun Medan/Tribun-Medan.com yang berkunjung ke gudang sayur miliknya yang terletak di Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Kamis (2/1)
Saat memulai usahanya, tidak berjalan baik.

"Sering rugi kami awal-awalnya. Bisa sampe nombok dua ratus ribu per hari. Cuma setelah dua bulan, sudah mulai ada untung sikit-sikit," ujarnya.

Kemudian setelah dia menerapkan managemen yang bagus akhirnya dia bisa mendapat untung yang lumayan.

"Kami belajar terus, kemudian kami perbaiki apa yang kurang. Kami tanya pembeli kami apa yang kurang? kami perbaiki. Kemudian bisa untung. Petani kami pun kami minta panenya sore," ujarnya.
Untuk menekuni usaha dagang ini, Bripka Wahyu kini mempekerjakan empat pegawai yang digaji Rp 700 ribu setiap minggunya atau Rp 2,8 juta per bulan. Dari hasil berdagangnya ini, setiap bulannya mereka sudah bisa rata-rata meraup untung hingga 28 juta.

"Penghasilan kami setiap bulan ini kami bagi dua. Setengah buat saya dan setengah lagi dengan perkumpulan pedagang kamtibmas. Kemudian bagian saya setengahnya saya sumbangkan ke Zakat. Nah ada juga penghasilan kami pada hari Jumat itu kami sumbangkan ke masjid-masjid," ujarnya.
Sumardi salah seorang petani yang datang menjual hasil pertanianya mengaku sangat nyaman sejak kehadiran dari Bripka Wahyu yang mau masuk ke pasar dan membeli dagangan dari petani.

"Dulu susah jualan. Ini tinggal antar aja ke gudang. Kalau dulu saya harus lama dipasar sana menjualnya. Kena panas. Sayuran saya pun jadi ngak segar lagi. Harganya pun sudah turun. Udah begitu kami bawa becak pun ke pasar, kami dimintai kutipan-kutipan. Sejak ada pak Wahyu di sini, nggak ada lagi yang mau ngutip-ngutip begitu," ujarnya.

Bripka Wahyu bercerita inisiatifnya untuk menjalankan idenya ini berawal dari kegelisahannya saat melihat harga sayur-mayur milik petani dipermainkan para pedagang yang jahat. Harga sayur-mayur para petani kerap kali tidak dihargai layak oleh pedagang.

"Di depan sana kan ada pasar. Dulu di sana aja dijual para warga ini. Saya pun dulu jualan di sana pertama kali. Kenapa saya terjun jualan ini? Karena saya tidak tega dengan para petani ini. Bawa hasil panen dari ladang, hingga malam nggak ada yang beli. Kemudian malam, datanglah tauke-tauke yang mau beli dengan harga yang sangat murah," ujarnya.



zyngaqq sboqq photo AB230x90gif_zps839436ce.gif
Share on Google Plus

About beritagosip

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments: