, Baru Seminggu Menjabat, Ini 5 Janji Trump yang Sudah Jadi Kenyataan. Dunia Mulai Kehilangan Arah | Berita Terbaru

Baru Seminggu Menjabat, Ini 5 Janji Trump yang Sudah Jadi Kenyataan. Dunia Mulai Kehilangan Arah

Baru Seminggu Menjabat, Ini 5 Janji Trump yang Sudah Jadi Kenyataan. Dunia Mulai Kehilangan Arah

SEBARKANBERITA


Baru Seminggu Menjabat, Ini 5 Janji Trump yang Sudah Jadi Kenyataan. Dunia Mulai Kehilangan Arah

Sudah seminggu lebih Donald J. Trump resmi menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. Terpilihnya tokoh kontroversial ini bisa dibilang sebagai fenomena tersendiri dalam politik internasional. Fenomena yang ironisnya membuka mata kita semua bahwa dunia ini memang sedang terpecah belah. Sampai-sampai sosok yang seringkali melontarkan komentar berbau rasis, seksis, dan fasis ini bisa menang dalam pemilihan demokratis.

Sebelumya, Hipwee sudah membahas apa saja janji Trump yang realisasinya akan sangat berbahaya bukan hanya untuk warga Amerika saja tetapi juga seluruh masyarakat dunia. Tak seperti janji politik kebanyakan, untuk pertama kalinya kita berharap komitmen Trump semasa kampanye hanyalah omongan kosong belaka. Namun jika melihat headline berita internasional seminggu ini, sepertinya mimpi buruk dunia pelan-pelan jadi kenyataan. Inilah cara Presiden Trump menepati janji-janjinya.

1. Trump telah menandatangani executive order untuk segera memulai pembangunan ‘tembok besar Amerika’ yang katanya bakal di reimburse oleh Meksiko

Executive order merupakan kewenangan khusus presiden untuk ‘mengarahkan’ kebijakan pemerintah pusat, tanpa harus melewati izin kongres. Tapi karena tetap membutuhkan persetujuan anggaran, banyak juga executive order presiden yang tidak terealisasi. Setelah dilantik pada tanggal 20 Januari 2017 kemarin, Presiden Trump telah menandatangani 13 executive orders. Salah satunya adalah tentang pembangunan tembok perbatasan yang selama ini jadi tagline kampanye politiknya.

Baca juga : Muslim Amerika: "Kami Memang Cemas dan Tertekan, Tapi Kami Tidak Akan Pernah Menyerah!"

Tapi nyatanya memang tak mudah memenuhi janji ekstremnya untuk memaksa Meksiko membayar pembangunan tembok tersebut. Presiden Meksiko, Enrique Pena Nieto sampai membatalkan kunjungan pertama ke AS setelah Trump menandatangani executive order tersebut. Meski belum jelas bagaimana caranya, Trump bersikeras tembok akan dibangun dulu baru setelahnya akan mencari reimbursement dari Meksiko. Jika Meksiko tetap menolak, Trump akan menaikkan pajak barang-barang impor sebesar 20% untuk membayar pembangunan tembok. Padahal Meksiko adalah rekanan dagang ketiga terbesar AS. Artinya, orang-orang Amerika juga akan terkena imbas langsung dari kenaikan pajak itu.

2. Janji bombastis Trump untuk melarang umat Muslim masuk ke Amerika juga mulai terealisasi. Selama 120 hari pintu masuk untuk pengungsi ditutup total dan muslim dari 7 negara dilarang masuk

Executive order lain yang ditandatangani adalah masalah imigrasi. Meski dikritik oleh seluruh dunia, diluar dugaan Trump tanpa basa-basi merealisasikan janjinya untuk ‘membatasi’ masuknya umat muslim ke Amerika Serikat. Umat muslim dari 7 negara yaitu Irak, Iran, Suriah, Somalia, Sudan, Libia, dan Yaman dilarang masuk ke AS, paling tidak untuk 90 hari ke depan. Pemilihan 7 negara tersebut juga sedikit rancu dan banyak dipertanyakan. Karena kalau berkaca pada kejadian teror di AS, justru kebanyakan pelaku teror berasal dari Arab Saudi maupun Pakistan. Bukan ketujuh negara tersebut. Pemerintah Iran bahkan telah bereaksi keras dengan juga melarang warga AS masuk ke negaranya.

Meski belum dibahas lebih lanjut mekanisme kebijakan ini, beberapa orang dari 7 negara tersebut langsung ditahan di bandara sesaat setelah executive order turun. Padahal mereka memiliki visa valid dan beberapa diantaranya justru bekerja untuk pemerintah AS. Secara spontan, gerakan protes massal langsung terbentuk menentang kebijakan itu. Terutama untuk membantu mereka yang tertahan di bandara, kumpulan aktivis, pengacara HAM, dan masyarakat biasa yang hanya sekadar lewat ikut berdemonstrasi di bandara-bandara. Ini adalah aksi protes besar-besaran kedua dalam seminggu kepemimpinan Trump. Sebelumnya, Woman’s March diikuti 3 juta perempuan seluruh dunia.

3. Jika negara dengan perekonomian terbesar di dunia menutup diri dari perdagangan internasional, efek dominonya pasti global. Hati-hati Trump sudah mengambil langkah pertama

Di hari pertamanya bekerja, Donald Trump langsung menandatangani executive order untuk menarik kembali atau membatalkan partisipasi dalam Trans-Pacific Partnership. Sejatinya, kesepakatan perdagangan dengan 12 negara ini akan menjadi perjanjian ekonomi bebas terbebas lintas benua di dunia. Sejak awal kampanye, Trump memang telah mengkritik habis-habisan perjanjian yang dipelopori oleh pendahulunya Barack Obama ini. Trump yakin bahwa perekonomian bebas justru akan merugikan AS karena akan semakin banyak pekerjaan yang ‘lari’ ke negara lain. Itu baru langkah pertama dari rencana proteksi ekonomi Trump untuk Amerika. Sejumlah konvensi perdagangan bebas yang selama ini telah berlaku seperti North American Free Trade Agreement (NAFTA), juga akan dievaluasi ulang.

Kalau Trump selalu mengaku ingin mengembalikan semua pekerjaan manufaktur ke Amerika, sebenarnya itu merupakan komitmen yang sedikit munafik. Pasalnya hampir semua produk bikinan perusahaan-perusahaan Trump seperti dasi yang selalu dipakainya, adalah buatan Cina.

4. Kalau Menteri Luar Negeri yang ditunjuk saja jebolan Exxon, pantas saja jika Trump ingin segera ‘meremajakan’ bisnis minyak. Padahal jelas-jelas berdampak buruk pada lingkungan

Executive order lain yang meresahkan banyak pihak adalah rencana pembangunan pipa minyak Dakota yang selalu ditolak oleh pemerintahan Obama. Jika selesai, proyek ini akan menghubungkan jalur transportasi minyak di empat negara bagian yaitu dari North Dakota sampai Illinois. Disamping kekhawatiran aktivis lingkungan akan dampaknya terhadap kenaikan energi fosil yang tidak terbaharukan, ada juga masalah penggusuran masyarakat pribumi Indian yang sensitif. Pembangunan jalur minyak ini akan melewati situs budaya suku Indian, Standing Rock Sioux. Selain kehilangan situs budaya, Amerika di bawah kepemimpinan Trump juga berisiko akan semakin jauh dengan kepentingan lingkungan seperti pengembangan energi ‘hijau’. Terutama jika melihat pilihan kabinet Trump yang hampir semuanya ‘putih’ dan dari korporasi seperti ExxonMobil.

5. Yang paling berbahaya adalah keberanian Trump menolak kenyataan. Berbohong pada publik pun disebut orang-orang kepercayaan Trump sebagai ‘alternative fact‘ atau ‘kebenaran alternatif’

Trump selalu berkata bahwa dirinya sedang ‘berperang dengan media’. Menurutnya, media selalu bias dan berpihak karena hanya memberitakan hal-hal negatif tentang dirinya. Bahkan ketika pemberitaan ‘sepele’ tentang jumlah orang yang datang ke acara pelantikannya disebut-sebut kalah dari massa yang hadir di pelantikan Obama, Trump mengirim juru bicara kepresidenannya Sean Spicer untuk ‘meluruskan’ berita tersebut. Masyarakat dunia shock karena konferensi pers resmi dari juru bicara kepresidenanan AS yang baru bukanlah tentang kebijakan atau hal substansial lainnya, melainkan kebohongan menyebut massa Trump adalah massa terbesar sepanjang sejarah acara pelantikan Presiden AS. Jelas-jelas sebuah kebohongan yang dengan sangat mudah dibuktikan lewat foto maupun kesaksian orang yang hadir.

Pemerintahan AS yang baru ini terus jadi olok-olokan ketika terus bersikeras menyebut kebohongan tersebut ‘alternative facts‘ atau kebenaran versi lain. Belum lagi tuduhan Trump tentang jutaan pemilih ilegal yang menyebabkan dirinya kalah dari Hillary dalam pemilihan populer. Sebuah tuduhan serius yang sudah dibantah oleh semua pihak berwenang. Disamping menunjukkan sisi temperamental dan kekanak-kanakan Donald Trump yang sulit menerima kenyataan, ini juga menandakan masa depan suram bagi kebebasan pers di Amerika dan dunia.


zyngaqq sboqq photo AB230x90gif_zps839436ce.gif
Share on Google Plus

About beritagosip

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments: