, Miris Pria Stroke Ini Dimutilasi Dan Dikubur Dengan Cor-an Semen Di kost Oleh Sepupunya. | Berita Terbaru

Miris Pria Stroke Ini Dimutilasi Dan Dikubur Dengan Cor-an Semen Di kost Oleh Sepupunya.

Miris Pria Stroke Ini Dimutilasi Dan Dikubur Dengan Cor-an Semen Di kost Oleh Sepupunya.

SEBARKANBERITA


Miris Pria Stroke Ini Dimutilasi Dan Dikubur Dengan Cor-an Semen Di kost Oleh Sepupunya.

JAKARTA -- Heboh mayat di semen di rumah kontrakan telah menjadi buah bibir. Riko Lesmana Saragih (41) tega menghabisi nyawa sepupunya Sofyan Lubis (43).

Bahkan, sebelum dikuburkan dengan cara dicor semen di rumah kontrakannya di Jalan Kramat, RT 005/04, Setu, Cipayung, Jakarta Timur, ia terlebih dulu memutilasi tubuh Sofyan menjadi beberapa bagian.

Pembunuhan terhadap Sopyan sendiri terjadi pada  Senin (24/10/2016) pukul 08.00 di rumah kos korban di Jalan Raya Jatimakmur, RT06/11 Pondok Gede, Bekasi sebelum jenazah dibawa pelaku menggunakan jasa taksi daring di hari yang sama.

Chairul (39), pemilik kos yang ditempati Sofyan sempat curiga mendengar cek-cok di dalam kamar Sofyan sebelum ia melihat Riko membopong tubuh Sofyan.

Saat ditanya, Riko mengaku baru saja memukul Sofyan karena Sofyan berkata kasar kepadanya.
Tapi Riko bilang saat itu Sofyan hanya pingsan.

Di belakang garis polisi, ratusan masyarakat berkumpul menyaksikan polisi membongkar makam sopir angkot Sopyan Lubis yang dikubur di dalam rumah kontrakan di Jalan Kramat, RT 005/04, Setu, Cipayung, Jakarta Timur, Senin (31/10).

Sewa dua kamar

Riko diketahui menyewa dua kamar kontrakan milik Haji Benah.

Satu kamar sudah ditempati bersama istri dan dua anaknya sejak dua tahun lalu. Tetapi, baru-baru ini ia menyewa lagi satu kamar yang berada paling ujung.

Kata seorang anak Haji Denah kepada Warta Kota, Riko baru membayar uang muka untuk satu kamar lain yang disewanya itu.

Kamar itulah yang digunakan Riko memutilasi dan menguburkan jenazah Sofyan.

Lokasi persis kuburannya ada di bagian dapur belakang, bersebelahan dengan kamar mandi.
Saat menguburkan korban di rumah kontrakannya, pelaku meminta bantuan rekannya bernama Rudi Hartono (34).

Untuk mempermudah pemakaman, pelaku memotong tubuh korban menjadi beberapa bagian sebelum dimakamkan.

Istri pelaku, Aik (38) sejak awal sudah menaruh curiga. Ia pun dilarang masuk ke dalam kamar untuk sekadar melihat kondisi Sofyan.

Genap seminggu Aik menahan rasa penasaran itu. Hingga akhirnya, pada Minggu (30/10) ia 
mengadukannya kepada kakak korban yang juga sepupu suaminya, Syarifudin Lubis (44).

Syarifudin Lubis atau Ucok tinggal di Pondok Melati, Kota Bekasi.

"Istrinya lapor ke abang saya kemudian dilaporkan lagi ke saya. Keluarga awalnya tidak percaya," kata Ucok ditemui saat proses pembongkaran kuburan korban, Senin (31/10/2016).

Anak perempuan Ucok bernama Fio (19),  kemudian datang ke rumah kontrakan Riko dan Aik untuk memastikan informasi itu.

Tanpa sepengatahuan Riko, Aik dan Fio melihat bekas cor semen mencurigakan, yang diduga sebagai kuburan Sofyan.

"Anak saya segera melapor ke saya dan kami laporkan ke polisi. Sampai akhirnya terungkap bahwa benar adik saya dibunuh, dimutilasi dan dikuburkan di sana," kata Ucok.

Sejak itu, Riko bersama Rudi Hartono langsung dibekuk dan ditahan di Polsek Pondok Gede, Bekasi.
Dibongkar



Setelah memeriksa dan meminta keterangan dua pelaku, Minggu petang, polisi gabungan dari Polsek Pondok Gede, Bekasi dan Polsek Cipayung, Jakarta Timur memeriksa lokasi tempat Sofyan dikuburkan.

Garis polisi dibentangkan di kompleks kontrakan.

Senin siang sekitar 11.00, tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Metro Jaya turun tangan membongkar makam.

Para petugas sempat kesulitan karena lubang tempat Sopyan dimakamkan dicor semen dan telah mengeras.

Lubang itu kata seorang dari tim DVI berukuran lebar sekitar 50 centi meter, panjang sekitar satu meter dan dalamnya tak lebih dari setengah meter.

"Petugas harus ekstra hati-hati menghancurkan cor semen itu agar tidak melukai jenazah," kata anggota yang enggan disebut namanya.

Proses pembongkaran makam itu memantik perhatian warga.

Ratusan warga saling berdesakan di belakang garis polisi. Wajah-wajah penasaran tergambar jelas.
Sementara, keluarga Sopyan berkumpul di salah satu sudut komplek kontrakan.

Mereka dengan perasaan getir menantikan proses pembongkaran dan pengangkatan jenazah selesai.

Sedangkan istri dan kedua anak pelaku yang masing-masing berusia delapan dan enam tahun, kata beberapa tetangga, keberadaanya tidak diketahui sejak Senin pagi.

Bau tak sedap tercium saat proses pembongkaran yang dilakukan.

Maklum, sudah sepekan Sofyan dimakamkan di lubang itu.

Proses pembongkaran makam dihentikan pada pukul 13.45. Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Hendy F Kurniawan di tengah proses pembongkaran makam Sofyan mengatakan, untuk sementara bagian tubuh korban dari dada hingga kepala sudah berhasil diangkat.

"Ada beberapa bagian potongan tubuh korban yang sudah diangkat dan dibawa ke RS Polri untuk pemeriksaan lebih lanjut," jelasnya kepada Warta Kota di lokasi.

"Hari ini pembongkaran kami hentikan karena kami akan lebih dulu mencocokkan keterangan pelaku dengan kondisi bagian tubuh yang sudah kami angkat," imbuhnya.

Hendy menuturkan, tim identifikasi saat ini belum bisa membuat kesimpulan sebelum semua bagian tubuh korban diangkat. Hendy juga menduga, ada beberapa bagian tubuh korban yang diduga dikubur di lokasi lain.

"Kami juga menduga bagian tubuh lain dikuburkan di titik berbeda karena ada bagian tubuh yang tidak ditemukan di sini," kata Hendy tanpa merinci bagian tubuh mana yang dimaksud.

Ditambahkan Hendy, dari hasil pemeriksaan sementara, motif pelaku membunuh korban lantaran pelaku kecewa setelah permintaannya ditolak korban.

"Sementara pengakuan pelaku begitu. Dia minta uang untuk pulang ke kontrakannya, tapi korban tidak memberi. Pelaku lalu memukul korban berulangkali sampai korban meninggal," katanya.
Lumpuh

Menurut kakak kandung Sopyan, Ucok, Sopyan sudah lama menderita sakit stroke. Tak banyak aktivitas yang bisa ia lakukan. Berjalan saja dia tidak bisa.

Sopyan sendiri merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Kata Ucok, Sofyan termasuk anak paling pintar di antara saudaranya yang lain.

Sementara saudara-saudaranya hanya bekerja di sektor nonformal, Sofyan bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah.

"Sejak saat masih kuliah di Perbanas dia sakit. Awalnya sakit panas. Lama-lama stroke dan tidak bisa berjalan," katanya.

Selama bertahun-tahun Sopyan dirawat secara bergantian oleh keluarga sebelum akhirnya Sopyan memutuskan hidup sendiri karena tidak ingin merepotkan.

"Dia tinggal sama saya sekitar tujuh tahun. Kemudian tinggal di adik saya beberapa tahun sebelum dia milih ngontrak sendiri," katanya.

Dalam kesendiriannya, Sopyan kerap mendapatkan kunjungan dari keluarga. Untuk biaya hidup, kata Ucok, selain uang bantuan dari keluarga, tidak sedikit masyarakat di sekitar Sofyan tinggal memberikan sedekah.

"Alhamdulillah, kalau untuk sekedar hidup adik saya tidak kekurangan. Kalau keluarga kasih uang dikit, ada saja orang yang kasih bantuan ke dia," kata Ucok.

Ingin pindah kos

Riko, sebelum menghabisi Sofyan dikenal keluarga sebagai salah satu sosok yang perduli dengan Sopyan.

Bahkan, ketika anggota keluarga lain sibuk dengan urusan masing-masing, Riko lah yang ke sana ke mari mencarikan tempat kos baru sesuai keinginan Sopyan.

"Sebulan lalu sudah dapat kontrakan baru. Saya tidak tahu di mana, mungkin yang dimaksud ya kontrakan tempat Sofyan dikuburkan ini karena Riko belum lama DP-in kamar itu. Tapi kabarnya Sofyan tidak mau dan ingin dicarikan tempat lain," kata Ucok.

Saat mencarikan kontrakan baru untuk Sofyan, kata Ucok, Riko juga sampai beberapa kali menginap di kontrakan Sopyan.

"Makanya kami semua heran kenapa Riko bisa membunuh Sopyan. Apa mungkin karena Riko kesal atau bagaimana, kami semua belum tahu," katanya.

Pasca-pembunuhan itu, Ucok mengaku sudah menemui Riko di tahanan Polsek Pondok Gede.
Selain karena kekerabatan, Ucok mengaku dekat dengan Riko karena pernah sama-sama menjadi sopir angkot di trayek yang sama.

Ucok berkisah, wajah Riko datar ketika ia didesak menjelaskan alasannya membunuh Sofyan.

"Tidak banyak yang ia katakan. Ia bilang hanya khilaf saja. Tapi ekspresi wajahnya datar," jelasnya.

Meskipun masih berhubungan kerabat, Ucok dan keluarga besar meminta agar Riko diproses sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.

"Keluarga sudah ikhlas dengan kepergian Sofyan. Adapun untuk pelaku, kami serahkan ke penegak hukum untuk diproses seadil-adilnya," jelasnya.


zyngaqq sboqq photo AB230x90gif_zps839436ce.gif
Share on Google Plus

About beritagosip

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments: