, Anaknya Yang Menderita Kelumpuhan Ingin Kuliah "Kaki ibu ini sebagai ganti kakimu". | Berita Terbaru

Anaknya Yang Menderita Kelumpuhan Ingin Kuliah "Kaki ibu ini sebagai ganti kakimu".

Anaknya Yang Menderita Kelumpuhan Ingin Kuliah "Kaki ibu ini sebagai ganti kakimu".

SEBARKANBERITA


Anaknya Yang Menderita Kelumpuhan Ingin Kuliah "Kaki ibu ini sebagai ganti kakimu".

"Kaki ibu ini sebagai ganti kakimu". Kata-kata penuh kasih sayang ini telontar lembut dari Tatik Sukilah (47) sembari menggendong putranya, Erry Susilo (16), Senin (31/10). Erry menderita kelumpuhan dari leher hingga kaki. Ke mana pun ia pergi, ia selalu digendong oleh Tatik.

Siang itu, ojek yang ditumpangi Erry dan Tatik berhenti di depan sebuah lorong. Dengan sigap, Tatik memberikan punggungnya sebagai sandaran bagi Erry. Erry memeluk ibunya yang berjalan selangkah demi selangkah melewati sebuah jalan kecil di sela-sela bangunan yang padat.

Langkahnya berhenti di sebuah bangunan sederhana di Ledok Tulangan DN2/143 RT 08/RW 02, Kecamatan Danurejan, Kelurahan Tegal Panggung, Kota Yogyakarta. Rumah kontrakan berukuran 5 meter x 4 meter inilah yang mereka tempati sejak 2003.

Tatik menuturkan, saat masih kecil, kondisi fisik Erry Susilo seperti anak-anak lainnya. Di masa itu, Erry adalah anak yang sangat aktif. "Kelas III SD, Erry tiba-tiba saat jalan sering jatuh karena kakinya lemas dan hanya merangkak," ujar Tatik.

Melihat putranya mengeluh lemas, Tatik melakukan berbagai usaha untuk menyembuhkan Erry. Ia mencari dokter maupun pengobatan alternatif. Tak hanya di Yogyakarta, Tatik bahkan datang ke Klaten, Jawa Tengah, demi kesembuhan Erry. "Sampai Erry pindah sekolah di Wonosari untuk proses penyembuhannya, saya di Wonosari sampai satu bulan," kata dia.

Tidak sedikit uang yang ia keluarkan demi sang buah hati. Rumahnya di Purworejo terpaksa dijual meski sedang dalam proses pembangunan dari hasil menabung saat bekerja di Jakarta. Malang bagi Erry, ia tidak kunjung sembuh.

Hingga akhirnya salah satu dokter spesialis saraf di Yogyakarta mengatakan bahwa Erry menderita duchenne muscular dystrophy (DMD) atau degenerasi otot. Penyakit ini tidak ada obatnya. "Katanya tidak ada obatnya, hanya kasih sayang orangtua lah yang akan menguatkannya," tuturnya.

Sejak itulah, Tatik mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya untuk mendampingi remaja tersebut. Kebetulan, anak pertama dan keduanya sudah bekerja, menikah dan tinggal di Jakarta. Anak ketiga Tatik sedang mencari pekerjaan di Yogyakarta. Setiap hari, Tatik selalu berada di samping Erry. Ia kerap bangun di malam hari ketika Erry mengeluh pegal dan ingin berganti posisi tidur.

Saat ini Erry tidak bisa menggerakkan kepalanya sendiri. Padahal, tiga tahun lalu Erry masih bisa menggelengkan kepala dan mengangkat tangannya. "Kalau ingin buang air besar, malam hari pun saya gendong ke kamar mandi, jalan kaki agak jauh, dekat Sungai Code. Di kontrakan kan tidak ada kamar mandinya," kata Tatik.

Saat duduk di Sekolah Dasar Lempuyangan Kota Yogyakarta, Erry berangkat dan pulang sekolah dengan digendong ibunya.

Ketika Erry sudah beranjak SMP dan SMA dan lokasi sekolahnya jauh, Tatik pun harus menyewa ojek untuk mengantar dan menjemputnya. Saban hari, Tatik harus membayar sebesar Rp 25.000 untuk ojek ke sekolah. Sebulan ia membayar Rp 650.000.

Jumlah itu diakuinya sangat berat sebab penghasilannya dari membuat serta menjual roti tidak menentu. Sementara ia masih harus membayar uang kontrakan sebesar Rp 500.000 per bulan. Belum lagi biaya untuk hidup sehari-hari.

"Ya, harus utang kanan-kiri kalau pas tidak ada uang. Soalnya pesanan roti atau snack tidak pasti ada. Tetapi ya ada saja rezeki itu datang, saya yakin Allah pasti memberi jalan," kata Tatik.

Sering kali tatkala tidak mempunyai uang untuk membayar ojek, Tatik menggendong putranya jalan kaki ke SMA Negeri 11. Kurang lebih satu jam ia berjalan melewati trotoar. Di usianya yang tidak muda lagi, Tatik harus beberapa kali berhenti di pinggir jalan untuk beristirahat sambil mengatur napas.

"Di jalan, yang bikin hati saya 'greeeg' saat Erry bertanya, 'Ibu capek? Ibu malu enggak gendong Erry? Ibu semangat, ya," tutur Tatik sambil memegang dada. "Saya jawab, 'Ibu tidak capek gendong Erry, tidak malu. Ibu selalu ada untuk Erry'," ucapnya mengulang jawaban ke Erry.

Meski dalam kondisi keterbatasan fisik, Erry tidak pernah sekalipun mengeluh, merasa malu atau putus asa. Semangat belajar dan sekolahnya tinggi, nilai-nilainya pun tidak kalah dengan teman-temannya. "Alhamdulilah, selama ini Erry selalu diterima di sekolah negeri. Rata-rata nilainya bagus, tulisannya juga bagus," kata Tatik.

Selama mengikuti pelajaran di sekolah, Erry duduk di kursi roda lengkap dengan meja. Kursi roda itu bantuan dari seorang anggota TNI. Teman-teman Erry sering menyuapinya makanan atau minum pada saat istirahat. Mereka juga membantu mengambilkan buku atau hal-hal lain yang diperlukan Erry.

Ingin kuliah

Kini Erry menempuh studi di kelas III IPS SMAN 11 Kota Yogyakarta. Kondisinya menjadi pelecut semangat untuk lebih baik dibandingkan orang lain. "Menerima keadaan dan semangat menjalani hidup. Saya tidak pernah sekalipun malu atau minder," kata Erry.

Erry mengungkapkan, selama ini tidak pernah kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah maupun mengerjakan tugas-tugas. Di sekolah, Erry merupakan siswa yang ramah dan ceria. "Tidak ada yang mengejek, teman-teman baik semua. Mereka selalu memberikan semangat," ujarnya.

Remaja kelahiran Purworejo tersebut mempunyai hobi mendesain web ataupun blog. Ia juga mahir dalam membuat desain logo.

Setelah lulus SMA nanti, ingin melanjutkan pendidikannya. Targetnya satu, ia ingin kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). "Semoga besok tercapai. Tapi masih bingung mau ambil Komunikasi atau Ekonomi," ujarnya.


zyngaqq sboqq photo AB230x90gif_zps839436ce.gif
Share on Google Plus

About beritagosip

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments: