, Para Orang Tua Harus Bisa Memahami Dampak Akibat Anak Disekolahkan Terlalu Dini | Berita Terbaru

Para Orang Tua Harus Bisa Memahami Dampak Akibat Anak Disekolahkan Terlalu Dini

Para Orang Tua Harus Bisa Memahami Dampak Akibat Anak Disekolahkan Terlalu Dini

SEBARKANBERITA


Para Orang Tua Harus Bisa Memahami Dampak Akibat Anak Disekolahkan Terlalu Dini

Sobat sebarkanberita.com sebagai orang tua, banyak di antara kita yang menganggap bahwa, jika anak di sekolahkan secara formal sedini mungkin, maka hal tersebut merupakan sebuah peristiwa yang membanggakan bagi dirinya. Bahkan tak jarang hal tersebut dijadikan sebagai ajang adu gengsi di antara para ibu-ibu komplek ketika sedang bergosip.

“eh jeng anak mu sudah sekolah apa belum?” “belum neng” “duh si panjul loh anak saya sudah sekolah sd dari umur 5 tahun”. Seketika di rumah sang ibu bertekad menyekolahkan anaknya yang masih berusia 4 tahun, yang masih imut lucu dan gemar bermain, untuk di masukan ke sekolah dasar. Mengkhawatirkan sekali ya bunda, apabila gara-gara gengsi memaksa anak untuk bersekolah formal.

Tak sedikit pula yang menganggap bahwa anak-anak yang di sekolahkan secara formal sedini mungkin, mempermudah mereka dalam menyerap setiap ilmu yang telah di ajarkan di sekolah. Anggapan itu pun tak sepenuhnya salah, namun tak sepenuhnya juga dikatakan benar.

Anggapan tersebut mungkin dapat dikatakan benar karena memang usia perkembangan anak khususnya usia dini adalah masa keemasannya dalam bertumbuh kembang. Pada fase tersebut anak memiliki kemampuan berkembang yang sangat pesat di bandingkan dengan fase usia pertumbuhan lain. Anak akan sangat sensitive dalam menrima segala informasi lingkungan sekitar dan pengaruh dari luar. Baca juga artikel kami yang berjudul Yuk

Akibat Anak Disekolahkan Terlalu Dini

Perkembangan tersebut berkaitan dengan perkembangan dari sisi berpikir, emosi, dan kecerdasan serta perkembangan motorik, maupun sosialnya.

Namun di sisi lain kemampuan anak secara mental belumlah matang secara sempurna yang mana hal tersebut berpotensi mengakibatkan anak akhirnya cepat jenuh dalam mengikuti proses belajar mengajar.

Mereka (orang tua) yang tak peka terhadap kondisi anak juga rentan membuat anak mengalami kondisi tertekan. Kondisi tertekan tersebut dikarenakan mereka (anak) harus menjalani proses belajar mengajar berbasis pendidikan formal yang cenderung menjemukan. Anak yang seharusnya bahagia dengan dunia bermainnya, akhirnya harus dihadapkan dengan pelajaran-pelajaran yang tak semuanya sesuai dengan umur perkembangannya.

Problem lain pun hadir dari rekan-rekannnya yang secara umur lebih dewasa dari usianya. Masalah tersebut dapat berupa kemampuan berinteraksi dengan dunia seusia rekannya, yang notabenenya berusia lebih dewasa dari dirinya. Jika anak tak mampu untuk mengikuti dunia dan pola pikir anak yang lebih dewasa, ditakutkan sang anak berpotensi untuk mengalami pengucilan atau bulliying dalam peer groupnya.

Dalam psikologi pengaruh dari peer group seorang anak akan lebih kuat di bandingkan dengan pengaruh lingkungannya, terlebih lagi jika hubungan orang tua dan anak memiliki kerenggangan.

Oleh karena itulah, sekiranya orang tua untuk bisa meninjau kembali keinginan menyekolahkan anak secepat mungkin dalam pendidikan formal. Karena dalam usia dini pendidikan terbaik adalah didikan orang tua.

Apabila dicitrakan dengan sebuah ketenaran seorang artis, maka anak yang di sekolahkan terlalu cepat sebelum usianya cukup mirip seorang artis karbitan dari ajang pencarian bakat atau artis musiaman yang fenomenal akibat sosial media. Ia akan cepat untuk melejit namun cepat pula untuk turun terprosok dan akhirnya hilang.

Diperlukan kesabaran bagi orang tua untuk mendidiknya terlebih dahulu di lingkungan keluarga. Ajarkan ia terlebih dahulu tentang nilai-nilai moral, sopan santun, dan akhlak yang baik dari keluarga, terutama orang tua yang menjadi role model utama anak. Karena basis utama dari pendidikan terbaik adalah menanamkannya sebuah karakter yang bermartabat.





zyngaqq sboqq photo AB230x90gif_zps839436ce.gif
Share on Google Plus

About beritagosip

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments: